Essay · Indonesia

Jantung Samudera yang Tereduksi Sebatas Selat: Membaca Monsoon karya Robert D. Kaplan dari tepi Selat Malaka

Dalam Monsoon (2010), Robert D. Kaplan meramalkan Samudra Hindia sebagai poros utama hegemoni abad ke-21 yang digerakkan oleh persaingan Amerika Serikat, Tiongkok, dan India. Namun, ketika memandang perairan Asia Tenggara, kacamata realis Kaplan mengalami kebutaan fatal: ia mereduksi Indonesia dan Selat Malaka semata-mata sebagai koridor lalu lintas kapal perang dan pipa energi asing, seraya menafikan kedaulatan serta doktrin maritim negara kepulauan pemiliknya. Esai-ulasan ini membedah titik buta geopolitik Washington tersebut langsung dari tepi Selat Malaka.

15 min readSamudera Hindia, Review-EssayIndonesia

Kalau Anda membuka peta dunia dengan garis alur perdagangan di dunia, maka Anda akan melihat bagaimana barang dan jasa dibawa dari satu tempat ke tempat lain menggunakan kapal. Lalu jika Anda menggeser pandangan mata Anda ke arah timur dan menelusuri garis dagang tersebut, maka Anda akan menemukan bagaimana garis-garis perdagangan itu memadat intensitasnya hingga memuncak di Nusantara, seakan-akan garis putus-putus itu adalah arteri darah, dan Nusantara adalah jantungnya. Titik-titik pertemuan jalur perdagangan yang menghubungkan tiga peradaban besar: Asia Timur-Australia dengan Timur Tengah-Asia-Afrika-Eropa. Di atas bentang lautan inilah, Kaplan menuliskan analisanya dalam buku, Monsoon: The Indian Ocean and the Future of American Power dengan pandangan sebagai lokasi nexus peradaban dunia di abad 21.

Cover Buku Monsoon: The Indian Ocean and The Future of American Power by Robert D. Kaplan

Kaplan memandang Samudera Hindia sebagai satu kesatuan ruang geografis yang memiliki peran penting dalam menentukan nasib peradaban umat manusia di abad ke-21. Kaplan mendasarkan pandangannya ini pada satu tesis utama yaitu: seluruh orang akan tunduk pada geografi, dulu, saat ini, dan masa depan.

Pada awal buku, Kaplan mengajak pembaca untuk berselancar ke ribuan tahun yang lalu dan menjabarkan alasan paling mendasar mengapa peradaban manusia terhubung di Samudera Hindia. Pola atmosferik membuat angin berhembus mengikuti satu arah dari barat ke timur pada waktu tertentu, dan sebaliknya enam bulan berikutnya. Ketentuan alam ini kemudian dimanfaatkan oleh peradaban manusia sejak 3000 tahun yang lalu untuk menciptakan jalur perdagangan dan pertukaran budaya, termasuk inovasi yang dibutuhkan seperti kapal Dhow, untuk mendukungnya. Kaplan membandingkan kondisi ini dengan peradaban Atlantik yang berlawanan, di mana angin lebih sering berhembus secara zig-zag sehingga membuat peradaban di dalamnya terpecah belah. Angin yang mendekatkan inilah yang menjadi katalisator lahirnya peradaban besar seperti Mesir, India, Tiongkok, hingga peradaban Afrika dan akulturasi budaya yang membentuk globalisasi pertama dalam sejarah.

Geografi yang sama yang kemudian menyebabkan orang-orang Eropa mulai mencari alternatif jalur perdagangan baru dan mencoba peruntungan untuk mengakses penghasil komoditas utama setelah dibebaskannya Konstantinopel pada abad ke-15. Kapal-kapal Eropa mulai membanjiri Samudera Hindia dan merubah tatanan yang sudah ada selama berabad-abad. Inggris kemudian menguasai Teluk Bengal, Belanda di Nusantara, dsb. Mereka kemudian menciptakan tatanan baru yang kemudian merubah pola perdagangan yang sudah ada dan melahirkan kondisi saat ini.

Kini setelah memasuki abad 21, Kaplan berpandangan bahwa peradaban dunia akan kembali berpusat di Samudera Hindia. Jika dahulu Samudera Hindia hanya sebatas lokasi penghasil komoditas rempah-rempah, kini ia menjadi tempat melintasnya kapal-kapal dagang yang membawa komoditas modern dan strategis yang menentukan nasib peradaban umat manusia. Setelah minyak menggeser batu bara sebagai engine industrialisasi, Selat Malaka menjadi titik pusat yang menghubungkan penghasil minyak negara teluk Timur Tengah dengan kekuatan di Asia Timur dan Australia. Satu titik yang sangat strategis karena seluruh komoditas penting dunia melintasinya.

Dan setiap lokasi strategis di mana banyak kepentingan dunia melintasinya sudah pasti akan menarik perhatian dan ambisi kekuatan-kekuatan besar. Sebagai contoh, China tentu saja akan memastikan bahwa energi yang diimport dari Timur Tengah akan sampai ke negaranya dengan selamat, termasuk dengan menjamin keamanan para pelaut dan kapal dagangnya. Upayanya kemudian diejawantahkan dengan membangun pengaruh, relasi melalui pembangunan pelabuhan laut di Gwadar serta Hambantota, hingga membangun pangkalan militer seperti yang ia lakukan di Djibouti. Di sisi lain, Amerika Serikat juga akan berusaha untuk mempertahankan dominasinya di Samudera Hindia, salah satunya dengan memperkuat aliansinya dengan India.

Samudera Hindia kemudian menjadi lokasi di mana stabilitasnya mempengaruhi nasib umat manusia pada abad 21. Mereka yang berkepentingan juga perlu melihat kemungkinan destabilisasi karena konflik internal. Kaplan sendiri menjabarkan potensi konflik yang terjadi akibat kemiskinan, ras, agama, dan perubahan iklim. Dalam hal ini, Kaplan berargumen bahwa Amerika harus mengatasi hal-hal tersebut jika ingin tetap menjadi kekuatan dominan di Samudera Hindia.

Membaca buku ini membuat saya memaknai kembali bagaimana manusia berada dalam gelembung kehidupan yang rapuh. Kehidupan modern saat ini ditopang oleh industrialisasi yang dibawa melalui laut. Tidak hanya energi, akan tetapi seluruh barang komoditas yang saat ini kita nikmati. Dan dalam proses angkutnya, banyak titik-titik strategis bernama chokepoint yang berpotensi meruntuhkan seluruh dunia yang kita kenal saat ini. Konektivitas global membuat kita saling tergantung, dan pada saat yang sama membuat kita begitu rapuh. Hal ini beresonansi lebih dalam, bahwa di hadapan hukum alam, manusia tetaplah tunduk pada kenyataan geografi.

Kaplan berhasil melukiskan bagaimana lautan menjadi penghubung peradaban dan bagaimana Samudera Hindia akan menjadi nexus dari dinamika geopolitik di abad 21, akan tetapi di saat yang sama dia gagal dalam melihat aktor dominan selain China dan India. Ia hanya memandang negara-negara di tepian samudera sebagai faktor stabilitas atau ketidakstabilan, terutama Indonesia dengan Selat Malaka sebagai lokasi lalu-lintas kapal kargo dan perang.

Kaplan membahas satu Bab yang secara khusus berbicara soal The Heart of Maritime Asia, akan tetapi yang Kaplan bahas hanya terbatas pada aktor yang dianggapnya cukup besar saja. Kaplan membahas tentang kepentingan Tiongkok untuk mengamankan energinya yang melewati jalur Selat Malaka, India yang berkepentingan untuk melebarkan pengaruhnya ke timur, serta Amerika. Lihat bagaimana Kaplan menjabarkan Selat Malaka,

“The Strait of Malacca is the world’s most congested chokepoint… through which passes more than 50,000 ships a year, including over half the world’s oil shipments and a quarter of its maritime trade. Here the geopolitical destinies of China, India, and the United States will intersect.” (Kaplan, Ch. 14)[¹]

Kaplan tidak membahas aktor-aktor strategis lain bahkan bagi negara yang memiliki kedaulatan di Selat Malaka seperti Indonesia, Singapura, dan Malaysia. Dalam Bab yang lain, Kaplan membahas Indonesia dan Malaysia hanya sebagai satu wilayah yang berpotensi konflik akibat konflik beragama. Malaysia digambarkan sebagai satu negara Islam yang dipaksakan kepada bangsa Melayu yang beragam, sedang Indonesia dianggap lebih memiliki stabilitas karena diikat oleh Pancasila yang lebih plural. Lebih dalam, Kaplan melihat Jakarta sebagai lokasi benturan antara Wahabisme kiriman petrodollar teluk melawan kapitalisme Tionghoa.[²]

Dalam rangka mengamankan chokepoint-chokepoint global, Kaplan mengajukan shifting kebijakan Amerika dari “polisi dunia” menjadi 1000-Ship Navy[³], sebuah gagasan bahwa Amerika menggalang kolaborasi negara-negara dunia untuk bersama mengamankan jalur-jalur niaga. Di sini Kaplan hanya melihat dua asumsi dasar, Amerika kesulitan untuk menggalang posisi “polisi dunia” saat ini karena keterbatasan anggaran dan bahwa setiap negara bersedia untuk menjalankan dan menerimanya.

16 tahun dari diterbitkannya buku ini untuk pertama kali, kita akan melihat tiga insiden yang membuat bagaimana posisi dan legitimasi “polisi dunia” saat ini sudah mulai bergeser. Insiden pertama adalah bagaimana Amerika menculik Presiden Venezuela.[⁴] Insiden ini memang berhasil diselesaikan dengan baik di level operasional, akan tetapi di level strategis ia dibiarkan mengambang. Hal ini jelas akan membuat negara-negara lain mulai melihat sejauh mana kemampuan Amerika dalam menyelesaikan operasi strategis militernya. Insiden kedua adalah bagaimana Amerika memulai perang dengan melakukan invasi udara terhadap Iran.[⁵] Insiden kedua ini memberikan paling tidak dua hal kepada Amerika, pertama adalah memperlemah kesan kemampuan militer AS, dan kedua adalah kemampuan kolaborasi AS yang dibuktikan dengan hilangnya dukungan dari negara-negara sekutunya. Insiden ketiga adalah bagaimana gugus kapal induk plus THAAD ditarik ke Timur Tengah, Insiden ini kemudian mendorong China masuk ke ZEE Taiwan dalam hitungan hari, yang kemudian membuat presiden Korea Selatan menyuruh negaranya bersiap untuk skenario terburuk dan menolak permintaan untuk menarik pasukan Amerika dari Korea Selatan.[⁶] Dampak insiden ketiga membuka wawasan sekutu Amerika bahwa mereka tidak dapat sepenuhnya bergantung kepada Amerika. Ketiga insiden ini menjatuhkan legitimasi Amerika sebagai “Polisi Dunia” bukan hanya karena dominasi globalnya mulai dipertanyakan akan tetapi juga karena ternyata yang membuat dunia menjadi tidak stabil adalah Amerika itu sendiri.

Di sisi lain, tentu kita perlu mempertanyakan asumsi dasar bahwa setiap negara bersedia untuk menjalankan dan menerimanya. Faktanya, di Selat Malaka misalkan, Anda dapat melihat preseden bahwa negara-negara yang memiliki wilayah di Selat Malaka tidak bersedia untuk mengundang militer Amerika ke wilayah untuk mengamankan Selat Malaka. Indonesia dan Malaysia secara aktif menolak militer Amerika ketika Singapura meminta perlindungan kapal niaganya dari gangguan bajak laut.[⁷] Fakta lainnya adalah dalam upaya mobilisasi kekuatan sekutunya dalam Perang Iran, Amerika kehilangan dukungan dari negara-negara sekutu seperti Spanyol, dan Itali.[⁸] Lebih jauh, Korea Selatan yang memiliki kolaborasi dengan Amerika juga menolak akibat melihat adanya potensi eskalasi konflik di Asia Timur. Keengganan Korea Selatan ini kemudian dibalas oleh Amerika dengan pemangkasan jadwal latihan Ulchi Freedom Shield dan pembatalan salah satu latihan di Korea Selatan pada September ini.[⁹]

Kesalahan Kaplan dalam meletakkan asumsi dasar ini kemudian menjadikan bangunan rekomendasi yang dibangunnya rentan.

Dalam sebuah kesempatan, James Holmes menyampaikan bahwa Kaplan adalah seorang Generalis-Penjelajah, bukan seorang spesialis lokal.[¹⁰] Dari sini tentu akan dipahami bahwa kemampuan Kaplan justru terletak pada bagaimana ia dapat melihat panorama makro Samudera Hindia yang tidak bisa dilihat pada kajian yang lebih spesialis. Akan tetapi nyatanya, bahkan dengan menelaah secara luas, Kaplan gagal dalam memasukkan salah satu faktor dominan seperti bagaimana ASEAN sebagai salah satu kolaborasi Regional. Lebih detail, Kaplan gagal juga dalam melihat secara historis peran Indonesia dalam membangun tatanan di Asia Tenggara dan perjuangannya dalam pengajuan konsep negara Kepulauan.[¹¹] Justru pengabaian data dan fakta historis ini bukanlah kelonggaran wajar bagi seorang generalis, melainkan cacat fatal pada desain peta makronya sendiri.

Berbeda dengan Kaplan yang memetakan samudra hanya sebagai medan manuver kekuatan besar, Sugata Bose menyajikannya sebagai ruang pertemuan peradaban. Dalam A Hundred Horizons, Bose menelusuri jejak para saudagar, peziarah haji, buruh migran, dan perompak, membuktikan bahwa Samudra Hindia jauh lebih kompleks dan humanis daripada sekadar koridor strategis.[¹²]

Lebih jauh mengenai peran Indonesia, Revolusi: Indonesia and the Birth of the Modern World karya David Van Reybrouck menjelaskan bagaimana Indonesia yang bukan merupakan kekuatan besar dunia berhasil menunggangi arus dunia melalui Konferensi Asia Afrika yang membangkitkan momentum kemerdekaan negara-negara Afrika serta perlawanan kesetaraan kulit hitam di Amerika dan Deklarasi Djuanda yang turut berkontribusi dalam membangun tatanan hukum Internasional.[¹³]

Kedua buku ini akan memberikan perspektif berbeda mengenai bagaimana Samudera Hindia dan aktor-aktornya seharusnya dapat dipahami dengan lebih baik.

Kegagalan Kaplan, yang notabene adalah seorang Generalis-Penjelajah dan “Orang Luar”, dalam melihat peran Indonesia dan ASEAN dalam membangun tatanan di Samudera Hindia harus dimaknai sebagai pengingat untuk mulai bangun dan menjabarkan Samudera Hindia dalam sudut pandang serta narasi kita sendiri. Kita dan seluruh elemen Bangsa di ASEAN perlu memaknai Jantung Samudera Hindia dengan mendefinisikan degup nadinya secara beriringan, bukan direduksi hanya sebagai selat sempit tempat manuver kekuatan besar semata.

Daftar Pustaka

[¹] Robert D. Kaplan, Monsoon: The Indian Ocean and the Future of American Power (New York: Random House, 2010), Bab 14.

[²] Kaplan, Monsoon, Bab 13–15 — pembahasan Indonesia, Malaysia, Selat Malaka, dan strategi Tiongkok.

[³] Kaplan, Monsoon — pembahasan pergeseran dari “polisi dunia” ke konsep 1000-Ship Navy (Global Maritime Partnership).

[⁴] “Maduro, Wife Captured by American Forces; U.S. to Oversee Venezuela Ahead of New Government, Trump Says,” USNI News, 3 Januari 2026. https://news.usni.org/2026/01/03/maduro-wife-captured-by-american-forces-u-s-to-oversee-venezuela-ahead-of-new-government-trump-says. Lihat juga: “Nicolás Maduro Moros (Captured),” U.S. Department of State. https://www.state.gov/nicolas-maduro-moros

[⁵] “2026 Iran war,” Wikipedia — perang dimulai 28 Februari 2026, dibuka dengan kampanye udara AS–Israel; tidak ada invasi darat AS ke Iran. https://en.wikipedia.org/wiki/2026_Iran_war. Untuk status mutakhir: “Iran War 2026 — Day 198 Update, 13 September 2026,” GlobalSecurity. https://www.globalsecurity.org/military/ops/iran-war-oprep.htm

[⁶] “Anxiety grips Pacific allies as Trump pulls back,” The Spokesman-Review, 19 Agustus 2026 — gugus tempur USS George Washington meninggalkan Asia menuju Timur Tengah; radar dan pencegat THAAD dipindahkan sejak Maret; China memasang infrastruktur militer permanen di ZEE Taiwan dalam hitungan hari; Presiden Lee Jae Myung: “From now on, we must prepare measures with even the worst-case scenario in mind.” https://www.spokesman.com/stories/2026/aug/19/anxiety-grips-pacific-allies-as-trump-pulls-back/

[⁷] “Maritime Security Cooperation in the Malacca Straits: Prospects and Limits,” RSIS Commentary CO04023, 2004 — penolakan Indonesia dan Malaysia atas Regional Maritime Security Initiative (RMSI) yang diajukan Laksamana Thomas B. Fargo (US Pacific Command) Maret 2004. Kepala Staf AL Malaysia Laksamana Mohd Anwar Nor: “We don’t want outside forces having a role in the Straits of Malacca.” Kepala Staf AL Indonesia Laksamana Bernard Sondakh membatasi kerja sama pada berbagi intelijen dan latihan; Singapura sebaliknya mendukung pelibatan kekuatan maritim luar. https://rsis.edu.sg/rsis-publication/rsis/619-maritime-security-cooperation/. Lihat juga: “Regional Maritime Security Initiative,” GlobalSecurity. https://www.globalsecurity.org/military/ops/rmsi.htm

[⁸] “Spain refuses to let US use bases for Iran attacks,” Al Jazeera, 2 Maret 2026 — Menlu José Manuel Albares dan Menhan Margarita Robles menolak penggunaan pangkalan Rota dan Morón. https://www.aljazeera.com/news/2026/3/2/spain-refuses-to-let-us-use-bases-for-iran-attacks. Lihat juga: “Italy joins Spain in barring US from using bases to wage Iran war,” Courthouse News Service, 31 Maret 2026 — Menhan Guido Crosetto menolak penggunaan pangkalan Sigonella, Sisilia. https://www.courthousenews.com/italy-joins-spain-in-barring-us-from-using-bases-to-wage-iran-war/

[⁹] “South Korea has not deployed forces in the US-Iran war — and Trump’s not happy,” The Irish Times, 8 September 2026. https://www.irishtimes.com/world/2026/09/08/south-korea-has-not-deployed-forces-in-the-us-iran-war-and-trumps-not-happy/

[¹⁰] James R. Holmes, ulasan atas Monsoon: The Indian Ocean and the Future of American Power, Education About Asia — mengakui “many specialists, predictably, pronounce Kaplan a dilettante” sekaligus membela nilai pedagogis penulis generalis. https://www.asianstudies.org/publications/eaa/archives/monsoon-the-indian-ocean-and-the-future-of-american-power/

[¹¹] Deklarasi Djuanda, 13 Desember 1957 — klaim Indonesia atas konsep negara kepulauan (archipelagic state), yang kemudian diakui dalam United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) 1982 dan diratifikasi Indonesia melalui UU No. 17/1985.

[¹²] Sugata Bose, A Hundred Horizons: The Indian Ocean in the Age of Global Empire (Cambridge, MA: Harvard University Press, 2006).

[¹³] David Van Reybrouck, Revolusi: Indonesia and the Birth of the Modern World (edisi asli Belanda 2020; terjemahan Inggris W.W. Norton, 2024).