Essay · Indonesia
Menolak Menjadi Penonton: Menggali Identitas Muson dan Membayangkan Masa Depan Alternatif Maritim Indonesia
Blokade Selat Hormuz pada tahun 2026 memicu krisis energi global yang sangat berdampak bagi Indonesia akibat ketergantungan tinggi pada impor minyak bumi. Secara historis, komoditas energi selalu menjadi pemicu utama konflik geopolitik dunia, mulai dari embargo Amerika Serikat terhadap Jepang pada Perang Dunia II, kudeta di Iran tahun 1953, hingga pembentukan sistem petrodollar pasca-Perang Yom Kippur 1973. Sebagai solusi ketergantungan fosil, Indonesia dapat merefleksikan kearifan lokal nenek moyang yang sukses memanfaatkan angin muson Hindia tanpa krisis energi. Saat ini, adopsi teknologi ramah lingkungan modern berbasis angin seperti wind-assist propulsion menjadi peluang krusial bagi kemandirian energi nasional.
Jum’at 22 Mei 2026, terhitung sudah 83 hari sejak Selat Hormuz diblokade akibat perang antara Amerika dan Israel dengan Iran[¹]. Seluruh negara terdampak. Indonesia yang terletak ribuan kilometer dari pusat konflik pun tak terkecuali. Perang yang seakan jauh, kini terasa begitu dekat dengan kita. Selat Hormuz menjadi jalan logistik untuk menghantarkan minyak yang dihasilkan oleh negara-negara Teluk ke seluruh dunia. Diperkirakan paling tidak 20% minyak di seluruh dunia melewati Hormuz.[²] Bayangkan tubuh manusia, maka Selat Hormuz bagaikan arteri utama tubuh. Indonesia sebagai bagian dari kesatuan tubuh itu tidak terkecuali.

Indonesia sendiri sangat bergantung akan impor minyak bumi, baik hasil kelola maupun minyak mentah. Tercatat paling tidak dari kebutuhan 1,6 Juta BPD, Indonesia baru menghasilkan 600 ribu BPD[³]. Minyak yang diterima itu kemudian menjadi bahan bakar pembangunan di Indonesia. Ia hadir dari yang paling dekat hingga yang seakan jauh dari kita. Ia menjadi bahan bakar kendaraan pribadi hingga logistik. Ia menjadi bahan dasar dari pembuatan kemasan Oreo yang kita gunakan, sampai mencuci baju dan tubuh kita.[⁴] Di tengah kebutuhan akan listrik, dia menghidupi daerah-daerah 3T melalui Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD).
PLTD meskipun hanya memberi sumbangsih 5–7% dari total kapasitas listrik nasional[⁵],, akan tetapi memainkan peran penting untuk kehidupan saudara-saudara kita di daerah terluar. Indonesia memiliki 5200+ PLTD yang tersebar ke 2100+ lokasi di daerah 3T dan memenuhi lebih dari 70% kebutuhan listrik. [⁶]
Melihat pentingnya minyak bumi, maka setiap negara dianjurkan memiliki cadangan minyak bumi sebanyak 90 hari kebutuhan[⁷]. Menghitung ini, Indonesia misalnya, akan membutuhkan paling tidak 144 juta barel. Akan tetapi tidak banyak negara yang mampu menyediakan cadangan sedemikian besar, karena tentunya jumlah investasi yang harus dikeluarkan. Indonesia misalkan dengan kebutuhan cadangan 144 juta barel, dengan mengasumsikan harga minyak ada di angka 100 USD dengan rupiah diangka 17.000, maka akan membutuhkan investasi sebesar 244,8 Triliun di luar investasi infrastruktur dan operasional yang harus dikeluarkan. Uang yang tidak kecil, terutama jika mengalokasikannya untuk investasi dengan imbal hasil 10% per tahun, maka paling tidak lebih dari 20 Triliun yang dapat dihasilkan tiap tahun.
Ironisnya, dengan naiknya harga minyak saat ini, dan dengan upaya pemerintah untuk menekan BBM dan gas bersubsidi, maka subsidi BBM-LPG ini sudah meroket senilai 266% menjadi 118 T hingga Maret 2026 dan akan terus menjadi lebih besar. [⁸] Seluruh pembangunan yang dirasakan saat ini, tidak hanya di Indonesia, tetapi di seluruh dunia seakan berada di atas tumpukan kartu yang rapuh. Ia berdasarkan pada asumsi bahwa arteri utama Hormuz tidak akan tersumbat. Akan tetapi sebetulnya, ini bukanlah pola acak, ia terbangun dari bagaimana dunia dikelola. Kita perlu menarik garis mundur 85 tahun untuk memahami apa yang tengah terjadi saat ini, bagaimana energi selalu menjadi titik awal pertempuran, dan bagaimana blokade Hormuz ternyata bukan yang pertama terjadi.
Mari kembali ke masa dimana Indonesia masih dijajah oleh Jepang. Kita perlu memahami bahwa memang penjajahan Jepang atas Indonesia dimulai pada 1942, akan tetapi rantai sebabnya sudah dimulai sejak tahun 1941 saat US mengembargo Jepang[⁹]. Akibat embargo ini Jepang kehilangan 88% minyaknya[⁹]. Dan seperti yang kita ketahui bersama, bahwa selepas Revolusi Industri prasyarat dari “mesinisasi” adalah energi[¹⁰]. Tidak ada energi (minyak) sama dengan mati.
Jepang memiliki ambisi untuk menguasai Asia, menyebarkan ideologinya dan menempatkan dirinya sebagai Cahaya Asia. Tahun 1940 Jepang memulai langkahnya untuk merealisasi ambisinya, namun Ia lupa bahwa ambisinya didasarkan pada asumsi bahwa Ia akan terus mendapatkan minyak untuk membiayai energi yang dibutuhkan. Satu tahun selepas dimulainya langkah ambisi Jepang, US yang kala itu menyuplai 80% minyak ke Jepang memutuskan untuk mengembargo Jepang melalui pangkalan militernya di Pearl Harbour setelah pembekuan aset tidak menggoyahkan upaya Jepang[⁹]. Jepang yang kehilangan pasokan energinya kemudian mencari daerah penghasil minyak, di mana kemudian menargetkan Nusantara, atau tepatnya Borneo dan Sumatera[¹¹]. Dan sejak itulah Indonesia dijajah oleh Jepang, tepat satu tahun selepas Jepang kehilangan pasokan minyaknya dari US[¹¹]. Dari sini kita melihat bahwa minyak sebagai sumber energi menjadi cara bagaimana US memupuskan langkah Jepang dalam prosesnya menginvasi negara-negara di Indochina yang justru menjadi alasan tambahan Jepang untuk mencari substitusi dari US.

Beberapa tahun selepas perang dunia kedua, negara-negara pemenang membagi-bagi hadiah kemenangannya. Iran menjadi salah satunya, di mana UK ketika itu mendirikan Anglo-Iranian Oil Company (AIOC) atau yang saat ini lebih kita kenal sebagai British Petroleum[¹²]. Pemerintah Iran yang ketika itu dipimpin oleh Mossadegh sebagai pemenang pemilu kemudian mencoba untuk menasionalisasi AIOC[¹²]. Merasa kepentingannya terganggu, CIA bersama dengan MI6 kemudian melaksanakan operasi Operation Ajax untuk melengserkan Mossadegh dan digantikan dengan monarki Iran oleh Mohammad Reza Pahlavi[¹²]. Sekali lagi kita akan melihat bagaimana negara-negara barat mencoba mengamankan kepentingan energinya dengan melakukan kudeta internal di negara yang mengganggu.
Pada dua dekade setelah perang dunia kedua, playbook negara-negara barat mengalami evolusi yang halus. Tidak lagi cukup dengan invasi militer langsung atau kudeta covert. Mereka butuh sesuatu yang lebih permanen, sebuah sistem yang membuat dunia bergantung pada mereka, bukan hanya pada minyak yang mereka kuasai. Sistem itu akan lahir dari sebuah krisis yang justru dirancang untuk melawan mereka.
Pada tahun 1973 terjadi perang Yom Kippur, perang antara Mesir-Suriah dengan Israel[¹³]. Arab Saudi yang kala itu memimpin OPEC mengembargo negara-negara Barat yang membela Israel[¹³]. Amerika ketika itu terdampak dan mengumumkan krisis energi, bersama dengan beberapa negara Barat. Konflik ini kemudian dimenangkan oleh negara Barat dengan ditutup dengan Kesepakatan Saudi dan US[¹⁴]. Kesepakatan yang mengharuskan penjualan minyak dari negara-negara di Timur Tengah dengan USD dan dengan penyimpanan di US Treasury Bond, sebagai imbal balik, US akan menjual peralatan militer dan perlindungan militer kepada Saudi[¹⁴]. Luaran dari kisah ini adalah berdirinya sistem petrodollar, di mana hingga saat ini 80% transaksi minyak global masih menggunakan USD[¹⁴], dan kesadaran negara barat bahwa timur tengah yang damai akan berbahaya untuk mereka. Karenanya, kita melihat bagaimana berbagai upaya dilakukan untuk mendestabilisasi timur tengah di kemudian hari.
Playbook yang sama masih terus berlaku hingga saat ini. Perang Iran hanya salah satu upaya bagi negara penghasil minyak ini memanfaatkan posisinya dan mencoba membalikkan asymmetric war dari Amerika dan Israel[¹⁵].
Empat peristiwa, empat era, satu pola. Pada 1942 kita dijajah karena minyak. Pada 1953 kita menonton pemerintahan Iran dikudeta. Pada 1973 kita menjadi pemeran sampingan sebagai anggota OPEC. Pada 2026 kita kena Hormuz. Setiap krisis energi punya pemenang, dan Indonesia di setiap babak selalu sama, entah berada di sisi yang kalah atau hanya berperan sebagai penonton.
Melihat ini Indonesia tidak akan bisa benar-benar merdeka ketika kita masih berada dalam satu playbook yang sama, ketergantungan pada negara lain dalam menghasilkan energi. Untuk keluar dari permasalahan ini kita dapat melihat kembali bagaimana nenek moyang kita telah memanfaatkan lokasi geografis yang Tuhan berikan kepada kita. Kita perlu menggali ke dalam memori kolektif kearifan yang telah dikumpulkan selama ribuan tahun oleh nenek moyang kita.
Ribuan tahun sebelum ditemukannya kata “Globalisasi”, nenek moyang kita di dataran Rimland Asia sudah bertali erat satu dengan lainnya tanpa terkendala sama sekali oleh krisis energi.
Tuhan telah memberikan kelebihan bagi Samudera Hindia dibandingkan dengan samudera lainnya. Samudera Hindia memiliki dua pola angin yang dikenal dengan angin muson timur dan barat, satu hal yang kita pelajari saat sekolah dasar. Hal ini membuat pelaut Arab dari pelabuhan Sohar tahu kapan harus berangkat[¹⁶]. Mereka akan berangkat pada bulan November membawa berbagai komoditas seperti kemenyan, kurma dan barang dagangan lainnya. Tiga bulan kemudian mereka berlabuh di pelabuhan Cochin di pesisir India, dilanjut ke Aceh, lalu ke Maluku. Ketika bulan Mei datang, angin akan berbalik dan mereka kembali ke Sohar membawa lada Nusantara, permata India, dan porselen China[¹⁶]. Satu jadwal yang pasti, dua perjalanan setiap tahun.

Keistimewaan samudera ini membuat ikatan antara suku-bangsa di Rimland Asia ini begitu dekat. Pada abad ke-7 misalnya, Sriwijaya di Palembang berhubungan erat dengan India dengan menyediakan pendidikan orientasi agama Budha[¹⁷]. Sriwijaya juga menguasai dua titik strategis Selat Malaka dan Selat Sunda selama tujuh ratus tahun[¹⁷]. Pada abad ke-14, Majapahit membangun armada laut dengan kapal jong berkapasitas dua ribu ton kargo dengan lima ratus awak per kapal[¹⁸]. Kapal yang jauh lebih besar dibandingkan dengan kapal yang digunakan oleh Columbus seratus lima puluh tahun kemudian .
Semua ini dibangun diatas satu prinsip sederhana: angin muson yang terprediksi sebagai pendorong alami. Nenek moyang kita kemudian menciptakan teknologi layar lateen yang bisa berlayar 55 hingga 60 derajat melawan angin[¹⁶]. Hal ini membuat mereka tidak pernah krisis energi. Hal ini karena teknologi yang dibangun diatas kondisi alam yang diberikan oleh Tuhan.
Apa yang dilakukan oleh nenek moyang kita adalah teknologi yang dapat menjadi alternatif untuk permasalahan krisis energi saat ini. Faktanya, itu bukan lagi menjadi satu angan dan glorifikasi belaka akan teknologi lampau yang seakan khayal untuk diciptakan, teknologi itu sudah ada, ia sudah dikembangkan dan mulai untuk dikomersialisasi.
Kembali ke saat ini, teknologi yang nenek moyang kita gunakan telah dikembangkan kembali. Dunia mulai sadar bahwa angin masih ada di samudera dan dengan adanya krisis energi dan kepentingan untuk mengefisiensikan penggunaannya, maka integrasi desain dilakukan. Kapal kontainer modern bisa kembali memanfaatkannya tanpa kehilangan kecepatan atau kapasitas.

Di Finlandia, perusahaan Norsepower memasang rotor sail, sebuah silinder berputar yang memanfaatkan efek Magnus untuk menghasilkan daya dorong, di kapal kontainer raksasa. Hingga maret 2025 sudah ada 32 unit rotor terpasang di 18 kapal dengan 40 unit lagi sedang dibangun[¹⁹]. Teknologi ini tercatat dapat menghemat penggunaan bahan bakar 5 hingga 25 persen. Di Jepang, MOL meluncurkan Wind Challanger, layar keras teleskopik, di kapal pengangkut LNG [¹⁹]. Di Swedia, Wallenius Marine mengembangkan Oceanbird, kapal pengangkut mobil dengan lima layar keras yang bisa menggantikan hingga 90 persen bahan bakar fosil. Dunia saat ini telah melihat polanya, mereka berlomba-lomba menciptakan teknologi kapal yang dapat memanfaatkan tenaga angin alami dan mengefisiensikan penggunaan bahan bakar. Pasar Wind-assist propulsion ini bahkan diproyeksikan tumbuh terus dari 164 juta USD di tahun 2024 menjadi 40,5 miliar USD di 2045 [¹⁹].
Lalu dimana Indonesia dan negara-negara di Asia Rimland yang dahulu erat hubungannya dengan angin? Pada tahun 2023 Kementerian Perhubungan mengeluarkan Permenhub Nomor 13 yang mewajibkan kapal komersial diatas 15 meter untuk menggunakan propulsi elektrik atau hibrida[²⁰]. Sebuah langkah baik untuk kapal kecil di perairan dalam. Tapi untuk kapal kontainer raksasa belum ada satu kebijakanpun yang mengupayakan adanya adaptasi atau pengembangan teknologi Wind-assist. PT.PAL Indonesia, galangan kapal terbesar negeri ini, baru sanggup membangun kapal perang dan satu kontrak kapal selam scorpene dari Prancis[²¹]. Komersial kontainer dengan teknologi modern? belum.
Ironi melihat Indonesia yang merupakan negara-bangsa paling erat hubungannya dengan angin muson Hindia, yang juga rentan terhadap krisis energi, yang nenek moyangnya sudah mengembangkan teknologi layar lateen ribuan tahun lalu tidak berada di barisan terdepan dalam mengembangkan teknologi ini. Teknologi wind-assist ini malah justru timbul dari negara-negara yang tidak memiliki keterkaitan erat dengan muson. Kita memiliki kunci dan ingatan kolektif, tetapi tidak pernah menggunakannya.
Diakhir, mari kita ingat ucapan Soekarno terkait penemuannya akan Pancasila, “Pancasila itu ada dan bukan muncul karena Soekarno. Ia ada dari pencarian mendalam dan intisari kehidupan keseharian dan historisnya masyarakat nusantara.”[²²] Kita perlu kembali merawat ingatan kita terhadap ingatan kolektif bangsa ini. Permasalahan-permasalahan yang kita hadapi saat ini, bisa jadi sudah terjawab ribuan tahun lalu oleh nenek moyang kita.
Daftar Pustaka
[¹] “2026 Strait of Hormuz crisis,” Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/2026_Strait_of_Hormuz_crisis
[²] Helmy Yahya. “Minyak Dunia Melonjak, The Prize: Amerika Selalu Dapat Hadiah.” Helmy Yahya Bicara, YouTube, 13 April 2026. Bersama Arcandra Tahar, mantan Menteri ESDM 2016–2019. https://www.youtube.com/watch?v=XDDfWEkmdSA
[³] “Why oil-rich Indonesia imports most of its fuel,” Asia Times, Oktober 2025. https://asiatimes.com/2025/10/why-oil-rich-indonesia-imports-most-of-its-fuel/
[⁴] “Indonesian Petroleum Association — Outlook 2026.” https://www.ipa.or.id/en/news/news/closing-2025-and-moving-towards-2026-indonesias-oil-and-gas-sector-outlook-ensures-energy-security
[⁵] “Handbook of Energy and Economic Statistics of Indnoesia 2024” Kementerian ESDM (https://www.esdm.go.id/assets/media/content/content-handbook-of-energy-and-economic-statistics-of-indonesia-2024.pdf)
[⁶] “Advancing Indonesia’s 100GW solar program through de-dieselization for energy security,” IEEFA. https://ieefa.org/resources/advancing-indonesias-100gw-solar-program-through-de-dieselization-energy-security
[⁷] International Energy Agency, “Strait of Hormuz.” https://www.iea.org/about/oil-security-and-emergency-response/strait-of-hormuz
[⁸] “Kemenkeu: Subsidi & Kompensasi BBM-LPG Meroket 266% Jadi Rp 118,7 T,” CNBC Indonesia, 4 Mei 2026. https://www.cnbcindonesia.com/news/20260504095206-4-731913/kemenkeu-subsidi-kompensasi-bbm-lpg-meroket-266-jadi-rp1187-t
[⁹] “Prelude to the attack on Pearl Harbor,” Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/Prelude_to_the_attack_on_Pearl_Harbor. Lihat juga: “United States freezes Japanese assets, July 26, 1941,” History.com. https://www.history.com/this-day-in-history/july-26/united-states-freezes-japanese-assets
[¹⁰] “What can we learn from the role of coal in the Industrial Revolution?” Economics Observatory. https://www.economicsobservatory.com/what-can-we-learn-from-the-role-of-coal-in-the-industrial-revolution
[¹¹] Daniel Yergin, The Prize: The Epic Quest for Oil, Money, and Power (New York: Simon & Schuster, 1990). Spesifik bab-bab WWII Pacific Theater. Lihat juga: “The ‘Noose Around Japan’s Neck’: America’s oil embargo against Japan,” Defense Media Network. https://www.defensemedianetwork.com/stories/the-%E2%80%9Cnoose-around-japans-neck%E2%80%9D/
[¹²] “1953 Iranian coup d’état,” Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/1953_Iranian_coup_d%27%C3%A9tat. Lihat juga: Stephen Kinzer, All the Shah’s Men: An American Coup and the Roots of Middle East Terror (Hoboken, NJ: Wiley, 2003).
[¹³] “1973 oil crisis,” Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/1973_oil_crisis
[¹⁴] “How the petrodollar regime came to be, and what losing it would mean for the U.S.,” NPR, 6 Mei 2026. https://www.npr.org/2026/05/06/nx-s1-5800887/how-the-petrodollar-regime-came-to-be-and-what-losing-it-would-mean-for-the-u-s. Lihat juga: “The Petrodollar — The US-Saudi Deal that Ruined the World,” CounterPunch, Maret 2025. https://www.counterpunch.org/2025/03/10/the-petrodollar-the-us-saudi-deal-that-ruined-the-world/
[¹⁵] Daniel Yergin, The Prize (1990), referensi argumen “America always wins” — pola US strategic positioning di setiap krisis energi.
[¹⁶] “Dhow,” Britannica. https://www.britannica.com/technology/dhow. Lihat juga: K.N. Chaudhuri, Trade and Civilisation in the Indian Ocean: An Economic History from the Rise of Islam to 1750 (Cambridge: Cambridge University Press, 1985).
[¹⁷] “Srivijaya empire,” Britannica. https://www.britannica.com/place/Srivijaya-empire
[¹⁸] “Majapahit empire,” Britannica. https://www.britannica.com/place/Majapahit-empire. Lihat juga: Hikayat Raja Pasai, manuskrip primer Melayu — sumber data invasi Majapahit ke Pasai 1350 (400 kapal jong).
[¹⁹] Norsepower Rotor Sails. https://www.norsepower.com/norsepower/. Lihat juga: MOL Wind Challenger. https://www.mol-service.com/en/services/energy-saving-technologies/wind-challenger. Plus: “Wallenius Bets on Wind-Powered Cargo Ships,” MarineLink. https://www.marinelink.com/news/wallenius-bets-windpowered-cargo-ships-483759
[²⁰] Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 13 Tahun 2023, mewajibkan kapal komersial >15 meter untuk menggunakan propulsi elektrik atau hibrida efektif 2025. Disitir dalam: Ken Research — Indonesia Electric Boat Market. https://www.kenresearch.com/indonesia-electric-boat-market
[²¹] “Indonesia to consolidate shipbuilding under PT PAL,” Janes. https://www.janes.com/osint-insights/defence-news/sea/indonesia-to-consolidate-shipbuilding-under-pt-pal. Lihat juga: “Indonesia to make PT PAL holding company,” ANTARA News. https://en.antaranews.com/news/403182/indonesia-to-make-pt-pal-holding-company-for-state-owned-shipyards
[²²] Soekarno, “Lahirnya Pancasila.” Pidato di sidang BPUPKI, 1 Juni 1945. (Catatan: kutipan dalam esai adalah parafrasa yang menangkap intisari pesan Soekarno tentang Pancasila sebagai hasil “menggali”, bukan menciptakan.)